• December 1, 2020 2:36 am

SMP Negeri 3 Depok Sleman

Semarak Berprestasi

MENCARI SEKOLAH IDEAL PASCA DIHAPUSNYA UJIAN NASIONAL

ByDarto Darto

Jun 3, 2020

oleh : TIM PPDB SMP Negeri 3 Depok

Penerimaan Peserta Didik Baru senantiasa menjadi topik yang hangat untuk dibahas. Apapun sistemnya PPDB selalu menjadi pusat perhatian. Saat masih menggunakan nilai UN sebagai alat seleksi, maka sekolah favorit menjadi serbuan para calon siswa baru baik yang masuk SD, SMP, SMA/SMK. Saat itu yang dimaksud sekolah favorit adalah sekolah yang dapat berkinerja tinggi untuk menghasilkan Nilai Ujian Nasional tinggi bagi para peserta didiknya. UN dipandang mampu menggerakan kinerja sekolah untuk memproses peserta didik agar dapat memperoleh Nilai UN yang tinggi. Namun setelah Ujian Nasional dihapus, sekolah semacam apakah yang bakal menjadi sekolah favorit?

PPDB adalah ritual tahunan yang selalu menimbulkan kecemasan, kepanikan, dan kegaduhan. Orang tua yang mau mencari sekolah lanjutan SD, SMP, SMA/SMK pastilah mengalami persaan nano- nano. Salah satu sebab kapanikan ini adalah berubah bergantinya regulasi PPDB setiap tahun dan munculnya regulasi perubahan terlalu mepet dengan waktu pendaftaran. Tidak jarang orang tua yang sudah mencoba memahami regulasi tahun kemarin, ternyata yang dipakai regulasi terbaru dan sangat berbeda. Ini dapat menimbulkan salah paham, dimana panitia menggunakan regulasi terbaru, orangtua peserta didik menggunakan regulasi lama. Di samping itu kepanikan bisa terjadi karena banyaknya keingginan untuk memasuki sekolah yang sama yakni sekolah yang dianggap favorit. Mereka berasumsi jika masuk sekolah favorit maka anaknya mendapat lingkungan yang baik dan akan sukses. Mereka memfavoritken suatu sekolah karena sekolah tersebut mempunyai rekam jejak kinerja ber Ujian Nasional yang tinggi. Dengan memasukan anaknya di sekolah yang seperti itu berharap bahwa anaknya juga akan memperoleh hasil UN yang tinggi. Salahkah mereka? tentu tidak, sepanjang masih diselenggarakan Ujian Nasional. Saat itu yang dimaksud sukses PPDB bagi orangtua adalah sukses memasukan anaknya pada sekolah favorit. Bagaimana kalau Ujian Nasional sudah dihapus ?Ini yang seharusnya menjadi pemikiran ulang. Dan faktanya mulai tahun ini Ujian Nasional ditiadakan. Lalu sekolah semacam apakah yang akan  menjadi sekolah favorit?

Melihat situasi seperti sekarang ini, dimana; Ujian Nasional ditiadakan, dan Regulasi PPDB mengunakan sistem zonasi, maka perlu pemahaman baru tentang sukses PPDB yakni:

Sukses PPDB itu adalah :

  1. Putra putri bisa masuk ke sekolah pilhan karena memenuhi kriteria.
  2. Orang tua dan putra putri dapat mengikuti proses pendikan selama 3 tahun dengan bahagia
  3. Setelah lulus putra putri dapat melanjutkan ke mana-mana.

Maksudnya adalah :
Pertama; Para Orang tua/Masyarakat tidak perlu memaksakan anaknya masuk di suatu sekolah kalau memang kriterianya tidak terpenuhi baik secara zona maupun prestasi. Jika secara kriteria tidak terpenuhi, namun dipaksakan, maka akan berdampak pada psikologis anak. Anak akan melanjutkan pendidikan dengan  beban moral. Contoh secara zona wilayah peluangnya kecil maka kemudian beralih zona radius dengan pindah KK, atau ganti jalur afirmasi dengan mencari Kartu Keluarga Miskin.
Kedua; Orang tua dapat mengetahui karakteristik/kultur pendidikan sekolah pilihannya dan mensinergikan dengan karakter putra putrinya hingga mereka selalu saling mendukung dan menguatkan selama proses pendidikan. Dengan demikian mereka secara bersama dapat mengikuti proses dengan bahagia. Contoh Sekolah tersebut sangat memiliki kultur disiplin dalam pendidikannya. Tepat waktu menjadi salah satu parameternya. Anaknya pengin datang tepat waktu, orang tuanya punya kebiasaan bangun siang, waduh pagi-pagi bakalan perang dunia, jika ini berlangsung terus tanpa sinergi, maka selama itu mereka menjalani proses dengan tidak bahagia

Ketiga;Kesuksesan ini yang butuh waktu dan proses, namun dapat ditentukan sejak menentukan pilihan sekolah saat PPDB. untuk itu perlu mempelajari/mengetahui rekam jejak sekolah dalam melakukan proses layanan pendidikan. Di sekolah yang dipilh, apakah ada keunggulan yang tak lenkang oleh jaman? Adakah pembekalan life skill yang mengacu pada ketrampilan abad 21, yakni 4C

SMP N 3 Depok, Semarak Berprestasi


SMP Negeri 3 Depok mengambil Branding Semarak Berprestasi yang bermakna
Semarak : Sekolah Milenial Ramah Anak, adalah sebuah tempat yang menggambarkan kondisi dan lingkungan beserta ekosistemnya dalam upaya mendapatkan prestasi dari apa yang dilakukan, di samping itu sesuai dengan KBBI;

  1. Semarak adalah cahaya untuk mendapatkan keelokan dan kemuliaan
  2. Berprestasi, mempunyai prestasi dalam suatu hal (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya)

Sehingga diharapkan SMP Negeri 3 Depok adalah sebagai wahana yang tak lekang oleh jaman, menjadi cahaya pencerah yang ramah bagi berkumpulnya anak milenial untuk mendapatkan keelokan dan kemuliaan berprestasi.

Program Unggulan SMP Negeri 3 Depok adalah :

  1. Meluluskan siswa dengan nilai TOEFL minimal 450
  2. Meluluskan siswa dengan memiliki minimal satu kompetensi life skill (IT, TTG, Kulinary, Pameran_Pagelaran)

Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai program tersebut adalah:

  1. EFMASA : English for Mathematic and Science, sebagai kegiatan kokurikuler sebanyak 180 menit (2x@90 menit) wajib diikuti semua siswa.
  2. LSBLB (Libur sekolah bukan Libur Belajar) dengan tagihan berbentuk reportase kegiatan dalam bahasa inggris terupload di youtobe.
  3. English Camp/Internasional Trip
  4. Menyelenggarakan kegiatan peminatan life skill IT, TTG, Kulinary, Pameran_Pagelaran, dengan menekuni satu bidang peminatan tersebut selama 3 tahun akan mampu minimal memiliki satu produk life skill yang diminatinya.

Mungkin sekolah lain masih kebingungan jualan program apa ya setelah tidak ada UN?
InshAllah SMP Negeri 3 Depok siap menjadi pilihan pertama. Dengan Semarak Berprestasi SMP Dega mampu menjadi tempat menyekolahkan anak bukan tempat membuang anak ke sekolah.

Dan jika masyarakat pada saat ini masih  memilih sekolah hanya didasarkan pada rekam jejak penghasil UN tinggi, maka boleh jadi selama berproses tiga tahun di dalamnya tidak akan mendapatkan apa-apa seiring dengan dihapuskannya Ujian Nasional. Waspadalah….